Jika kita mengenal identitas gender seperti Laki-laki,
perempuan, transgender, dan queer. Makan kebanyakan dari kita akan
menjeneralisasi saja apa orientasinya, misalnya jika dia laki-laki maka pasti
dia akan meyukai perempuan, begitupun perempuan, akan menyukai laki-laki.
Generalisasi ini pun juga berlaku pada kelompok trans, orang akan menganggap
seorang transpuan akan menyukai laki-laki, begitupun transpria, akan menyukai
perempuan yang terlihat feminism.
Sesungguhnya pengeneralisasi ini sendiri terlalu tidak
tepat, identitas gender seseorang tidak menentukan kemana orientasinya,
laki-laki bisa menyukai sesame, begitupun perempuan. Seorang transgender pun
belum tentu menyukai gender yang berbeda, bisa saja dia juga menyukai gender
yang sama. Missal seorang transpuan bisa saja masih menyukai perempuan, atau
sebaliknya.
Pada kelompok crossdresser sendiri, khususnya pria pelaku
crossdressing, banyak dari mereka yang masih menyukai lawan jenis mereka, dan
bahkan memiliki keluarga normal, walau demikian banyak juga diantara mereka
yang secara diam-diam tertarik kepada pria atau transpuan.
Saya sendiri sebagai crossdresser melihat perilaku
crossdressing sebagai bentuk ekspresi gender mereka. Karena itu banyak dari
crossdresser melakukan aktifitasnya secara rahasia, karena dia memiliki
ekspresi gender yang berbeda dengan identitas gendernya. Stigma miring yang
menyamakan pelaku crossdress dengan trans juga menjadi ketakutan tersendiri.
Belum lagi anggapan bahwa pria yang berekpresi seperti wanita tak jarang
mendapat bullyan atau gunjingan.
Selain sebagai bentuk ekspresi, ada sebagian crossdresser
dimana menjadikan crossdressing sebagai bagian dari fantasi seksnya, banyak pula
diantara mereka ini melakukan crossdressing untuk merasakan fantasi seksual
menjadi lawan jenis, misal seorang crossdresser pria ketika bercrossdressing,
dengan tujuan melakukan ingin hubungan seksual dengan laki-laki, dan
membayangkan dirinya sebagai seorang wanita. Lalu ada pula pelaku crossdressing
yang membayangkan dirinya seorang wanita, dan ingin bercinta dengan wanita lain
(lesbian).
Pada kasus yang sering ditemui biasa pria atau wanita dengan
ekspresi gender yang bertolak belakang sering menjadi bahan gunjingan, atau
bullyng. Tak jarang gujingan-gunjingan tersebut menyudutkan orientasinya.
Bahkan jika candaan-candaan ini dilakukan di ranah public atau di muka umum.
Saya sendiri yang pernah mengalami gender dysphoria juga pernah mengalami
candaan-candaan seperti ini, dan saya cukup bersyukur mampu menyikapi masalah
saya dengan positif tanpa despresif.
Thailand sendiri telah membagi orientasi seksual ini menjadi
18 macam.
Sebenarnya macam tersebut tidak hanya ada di Thailand, tapi
di banyak negara termaksud Indonesia. Tapi kita lebih suka menjeneralisasikan
dan menyimpulkan sesuatu tanpa bertanya atau membuktikan hal tersebut benar
atau tidak.
Semoga tulisan kali ini cukup bermanfaat dan berfaedah buat
di baca , syukur-syukur jadi pelajaran buat kita.
Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

0 Comments