Saya akan cerita sedikit tentang
cerita saya, teman saya,, dan adik teman saya. Dimana kita berdua saat ini 2018
sedang membuat sebuah usaha kecil-kecilan dengan modal yang juga kecil.
Sebenernya, keuntungan kami cukup lumayan untuk diri sendiri dengan modal
kecil, walau menjadi cukup miris ketika
kami memikiran kondisi keluarga kami.
Adik teman saya saat ini sedang
kuliah di jurusan kedokteran di PTN di kota saya. Sebuah kebanggaan memang
terdengar, tapi juga beban tersendiri, khususnya jika keluarga kami dalam
kondisi yang tidak baik-baik saja, khususnya secara ekonomi, dan keluarga broken home. Dia dan teman saya menjadi
tulang punggung keluarga saat ini, khususnya untuk ibu dan juga adik mereka
yang masih sekolah. sambil menunggu panggilan koas, dan berapa perbaikan mata
kuliah makanya usaha cemilan kami di bangun.
Saat berjaga di counter usaha kami sering cerita banyak
hal, salah satunya tentang keluarga masing-masing. Sebenernya teman saya ini
masih memiliki satu orang saudara lagi yang telah menikah, dan memiliki dua
anak.
Suatu kali adik teman saya
bercerita, bahwa penghasilannya kadang harus di kirim untuk kakak iparnya,
karena abangnya “Sedang Rusak” akibat narkoba, tak jarang, abangnya sebagai
suami meminta uang pada istri yang tidak bekerja, karena kasian terhadap
keponakan mereka yang masih kecil teman saya dan adiknya pun membantu seadanya,
walaupun keadaan kami sendiri, bisa dikatakan tidak baik-baik saja. Kami juga
membantu keuangan ibu, karena memang tanggung jawab kami sebagai anak. Dan ibu
yang sudah memiliki cucu, juga sering iba dengan kondisi tersebut, sehingga
uang yang kami kasih tak jarang diberikan pula untuk cucunya, bahkan ketika
anaknya yang pecandu datang meminta, itupun diberi. Kalian tau rasanya, seperti beban seluruh keluarga di
limpahkan di punggungnya.
Saat saya bertanya, “kenapa istri
abang mu engga kerja aja?”. Jawabannya cukup mencengangkan “engga dikasih
suaminya”. Seketika jawaban itu membuat saya emosi sendiri. Surga macam apa
yang dicari dari kepatuhan istri? Jika suami cukup waras, dan menyadari
tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga, wajar jika istri patuh dan hormat.
Tapi jika suami kamu mabok, otaknya rusak dan penganguran, masih normal kah
kepatuhan seperti ini. engga manusiawi buat saya, bahkan jika dia
mempertahankan perkawinan hanya buat anak. mama Dedeh pun ketika ditanya, saya
yakin beliau setuju jika disuruh cerai bila suami macam begitu.
Bayangkan seorang anak perempuan
yang harus bekerja untuk kuliahnya, hidup sehari-hari, orang tua, juga bahkan diperparah oleh kondisi abang ipar
dan keponakan. Sering dia mengeluhkan untuk berhenti kuliah, tapi masih dia
tahan karena memikirkan orang tuanya. Keadaan sebagai keluarga korban narkoba
pun juga saya alami sebenarnya. Bagaimana kondisi orang tua saya jatuh akibat
ulah adik saya. Itu membuat saya makin benci dengan narkoba.
Heran rasanya saat melihat fakta
bahwa anggota keluarga yang menjadi korban narkoba lebih dibela daripada anak
yang memiliki kecendrungan SOGIESC yang berbeda, anak gay, atau transgender
cendrung di usir. Bisa jadi mereka yang akan menjadi tulang punggung. Sedangkan
anak-anak yang otaknya rusak oleh drugs,
dibela, walau perlakuan anak-anak ini kasar, bahkan cendrung kriminal. Mereka
dibela meski di dalam bui, bahkan diharap segera kembali. Sedangkan yang lain,
dipukuli, meski mereka bekerja agar di akui. Saya tidak tau mana yang lebih
merusak buat kalian. Jadi jika ada diantara kalian bertanya kenapa saya lebih
memilih berteman dengan teman-teman LGBTIQ kalian tau kenapa kan?
Saya tahu, jika membayangkan adik
teman saya kalian akan kasihan. Tapi bagaimana jika saya katakan dia seorang
lesbian. Apa kalian masih kasihan?
Anjink Para Pecandu

0 Comments