beberapa hari yang lalu si manusia abu-abu ini nemu sebuah
video di laman youtube tentang seorang
tokoh yang cukup menarik. Di video yang berkisar sekitar 35 menit dengan Judul ”Dari
Perspektif Ian Hugen Tentang Menjadi Seorang Genderqueer dan Mencintai Diri
Sendiri” ini, Ian Hugen mendeskripsikan dirinya sebagai Genderless atau Queer
(genderqueer). Nah, lho? Pada nanya-nanya kan ini jenis mahluk apa lagi?
Beberapa bulan yang lalu saya pernah bahas masalah
GenderLess Culture di Jepang.
Jadi, sebenernya Genderless itu apa sih? Genderless yang
juga dianggap sebagai queer dapat diartikan sebagai tidak ada gender atau dapat
mencakup keduanya (walau queer memiliki defenisi yang mencakup pengetian yang
lebih luas). Jadi seseorang yang mengkatagorikan dirinya sebagai genderless tidak
mengangap dirinya sebagai laki-laki, perempuan atau juga transgender, tapi juga
menganggap dirinya bagian dari semua gender tersebut. Ian Hugen sendiri
mendefinisikan tentang gender sendiri merupakan bentukan society (masyarakat),
gender merupakan sebuah konsep, bukan ditentukan oleh kelamin. Laki-laki dan
perempuan adalah masalah role (peran). Ian kemudian mencontohkan jika dia bisa
bertanggung jawab dengan perannya sebagai laki-laki juga memiliki sisi feminis, dia bisa menjadi laki-laki juga perempuan.
Pengertian gender sendiri memang dibentuk secara sosial
dalam masyarakat dimana peran-peran gender sebagai laki-laki dan perempuan
biasanya ditentukan oleh kelamin seseorang sejak lahir, tetapi kemudian pada
personal-personal tertentu tidak selalu mengikuti atau bahkan keluar dari
peran-peran yang menempel dari identitas lahirnya . Sebagai identitas, gender sendiri dipahami tentang bagaimana
manusia mengenali diri dan mengidentifikasi diri mereka sendiri sehingga dia
akhirnya mengambil peran-peran juga mengidentifikasi dirinya sesuai atau diluar stadart
yang telah ditentukan masyarakat.
Memang fenomena genderless ini lebih dulu merebak dalam tren
busana, dengan semakin merebaknya mode-mode unisex dan androgyny yang mana
orang dapat memilih gaya yang “tidak biasa” dipakai jenis kelaminnya. pelaku genderless dashi di Jepang sendiri
biasanya juga mencampur adukkan kedua model maskulin atau feminim dalam gaya
penampilannya. (dalam hal ini genderless
dapat diartikan sebagai sebuah bentuk dari ekspresi jender).
Pelantun lagu “my
heart will go on” sendiri dalam sebuah brand fashion anak yang pernah dia
luncurkan sempat menggebrak dengan model fashion yang di katakan “genderless”
dalam iklannya. Digambarkan dimana Celine Dion menerobos ruang bayi yang dibagi
menjadi warna biru dan pink, kemudian dengan meniup glitter seluruh model
pakaian bayi-bayi tersebut berubah dengan model-model yang lebih netral
(mungkin penonton tidak akan tahu mana anak laki-laki atau perempuan).
Seringkali genderless di Indonesia dianggap sebagai sebuah
fenomena LGBT karena dianggap melawan dari aturan atau norma heteronormative yang
ada. Walau (seperti yang pernah saya tulis: Identitas Gender tak Menggambarkan Orientasi ) tidak selalu identitas atau bentuk
ekspresi ini menggambarkan tentang orientasi seseorang, tetapi harus lebih dilihat sebagai bentuk keberagaman seksual (dalam identitas, dan ekspresi). Walau demikian
Indonesia sendiri, memiliki beberapa role model untuk genderless selain Ian
Huges, antara lain Darrel Ferhostan yang menjadi role model Androginy
Indonesia.
![]() |
| Darrel Ferhostan |


21 Comments
"Seringkali genderless di Indonesia dianggap sebagai sebuah fenomena LGBT..."
BalasHapusJelas lah kak, karena dengan adanya gender less, maka campaign oorganisasi yang pro lgbt lebih mudah kerjanya.
Dan kemarin juga liat video dimana baby gak boleh dipanggil boy atau girl.
Jadi gak ada baby boy atau baby girl usia 0-4 tahun.
menyebut mereka harus theybie.
Nah, syukur di Indonesia gak gini.
karena kita masih suka nanya "Anaknya cewek apa cowwok?" Wkwkwk
Balik lagi kak, karena di agama yang awak percaya, hak seorang anak harus dididik sesuai jenis kelaminnya, maka pembentukan orientasi seksual dan pengenalan gender adalah tugas orang tua..
♥♥♥♥
"Seringkali genderless di Indonesia dianggap sebagai sebuah fenomena LGBT..."
BalasHapusJelas lah kak, karena dengan adanya gender less, maka campaign oorganisasi yang pro lgbt lebih mudah kerjanya.
Dan kemarin juga liat video dimana baby gak boleh dipanggil boy atau girl.
Jadi gak ada baby boy atau baby girl usia 0-4 tahun.
menyebut mereka harus theybie.
Nah, syukur di Indonesia gak gini.
karena kita masih suka nanya "Anaknya cewek apa cowwok?" Wkwkwk
Balik lagi kak, karena di agama yang awak percaya, hak seorang anak harus dididik sesuai jenis kelaminnya, maka pembentukan orientasi seksual dan pengenalan gender adalah tugas orang tua..
♥♥♥♥
Double post kak.
BalasHapusSaya selalu setuju dengan mengajarkan segala hal biner, heteronormatif, dan juga logika moral sedini mungkin kak.
Tapi tetap mwnghormati pilihan2 setiap orang atas dirinya sendiri (selama engga merugikan dan meracuni paksa orang lain) 😆
*Tulisan ini hanya sebuah review sosial dan tidak mengkampanyakan apapun
Saya suka melihat isu-isu sosial, dan konsep genderless kok rasanya baru banget bagi saya.
BalasHapusAsli, mungkin saya yg emang kurang wawasannya, sampai istilah genderless sendiri saya baru tahu ini
Apakah mereka menyatakan diri masuk dalam LGBT, atau mereka merasa berdiri sendiri dan bukan bagian dari LGBT? Hmm, ada-ada saja..
Di indonesia mungkin cma populer LGBT tapi ada klmpok yg lbih besar bang. Kyk LGBTIQ bahkan ada lagi LGBTIQN+ dengan keberagaman isu seksual yang sangat luas.ga cuma masalah identitas juga orientasi.
HapusKategori baru?
BalasHapusBisa terlihat di trend jepang dan korsel mnrt saya..
Para member boyband adalah para lelaki yang cantik.
Dan saya lebih suka anak2 saya jadi para lelaki yang betul-betul laki-laki... Baik fisiknya, juga mentalnya...
Soleh nak yaa.. Solehh....
Aaamiiiun bunda Aaamiiiin...
HapusBaru tau ada istilah Genderless? 🙄
BalasHapusKadang awq ngerasa lah jadi laki2 kadang perempuan ahahha kekmana tu bg
BalasHapusHarus konseling lagi lah masalah ini
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusPostingan yg menarik saya jadi tau ttg istilah genderless ini, seperti yg contoh model androgini macam Darel Ferhostan, meskipun nampaknya kemayu ia juga tetap memperlihatkan sisi maskulinnya, tapi kalo yg ngaku2 dia cewe sampai ngaku pernah haid apalagi hamil padahal dia cowo itu yg gak paham lah, taulah siapa orangnya kan hehe
BalasHapusSejujurnya kalau baca istilah baru dalam dunia gender gini aku ngeri tp juga harus melek mata kalau ini semua ada.��
BalasHapusSemoga bisa mendidik anak sesuai fitrahnya di tengah berbagai tantangan zaman.
Amiiin kak. Smoga jadi anak saleh dan saleha yang menjalankan tuntunan agama dengan bijak dan benar
HapusWaduh.. selalu deh kita bertolak belakang oem. hehehe...
BalasHapusGa apa kak.biasa itu. Hanya berbagi pengetahuan. Saya juga belajar parenting dari akak 😄
HapusNo comment, tentang topik ini, Karna masing-masing orang punya pandangan yang berbeda. Agak sensitif. Kita saling menghargai pendapat masing-masing
BalasHapusUntung tinggal di Indonesia. Gak aneh2 kayak di luar... Banggalah tinggal di sini. Mantap opininya bg
BalasHapusDari judulnya aja, sudah tau yang dibahas. Hehehe
BalasHapusDari Gendreless, secara perlahan bisa ke feminine bagi seoarang pria. Sudaj ada kog contohnya.
Ya ada lah bang. Kalo ga ada ngapain jadi bahasan. 😅
HapusKalau sehari2 paling kalau mau beliin baju or celana anak suka nanya ini bajunya apa celananya unisex ya? Gitu doang sik...tapi di tataran keseharian, kami firm mengenalkan perbedaan gender, ciri, peran dan tanggungjawab ke anak sedini mungkin. Begitupun di luar sana pastilah banyak ya fenomena spt yang umar tuliskan apalagi di luar negeri.
BalasHapus