ANTI DAN THEA
“Kalau engga ada
surga, neraka, atau pun karma, masihkah kau mengikuti perintahNya?’ demikian
pertanyaan yang pernah diajukan Thea pada Anti saat dia mengaku tentang
pandangannya dan idologinya.
“Jawaban itu
engga akan memuaskan dengan logika” jawab Thea. “harusnya kepatuhan terhadap
agama didasari terhadap logika-logika dan empati” . Entah sudah berapa kali KInAnti
dan thea berdebat masalah seputar perintah tuhan dan logika. Thea selalu
menemukan logika berfikir mengapa setiap perintah Tuhan ada untuk kebaikan.
Bukan semata kepatuhan. Heran rasanya bagaimana seorang agnostic masih bisa
membantu Anti untuk mengerti setiap aturanNya. Sedangkan Anti sendiri sering
mempertanyakan banyak aturan yang menurutnya tak sesuai dengan banyak
pandangannya.
Anti berkenalan
dengan Thea sekitar dua tahun lalu. Mereka belajar di kampus yang sama hanya saja di
jurusan berbeda. Thea sering mengisi kolom opini dan juga beberapa artikel
dalam pers kampus dengan opini-opini yang cukup berani. Sedangkan Anti sendiri,
adalah salah satu dari redaksi majalah tersebut.
“Gila ya, ahli
agama rendahin manusia banget, dikira istri boneka apa?” racau Thea sesaat
setelah Anti keluar dari mushalla. Sebagai seorang agnostic Thea terlalu sering
duduk di mushalla hanya untuk
menunggu ibadah Thea, bahkan cukup sering mengingatkan Anti di waktu-waktu
ibadahnya.
“kenapa? Kasus suami yang memperkosa
Istri kemarin?”. Tanya Anti saat menyamperi
Thea yang sedang memeriksa laporan pendampingan yang sedang ditangani LBH tempatnya
magang. “kan emang ada perintah agama buat mematuhi perintah suami, dan
‘melayani’ suami ibadah”. Jawab Anti ringan, “ya walau aku engga setuju sih
sama fatwa-fatwa tersebut”.
“Ya, busuk aja
rasanya ada seorang ahli agama yang komentar begitu di media masa nanggapin
kasus beginian” jawab nya “Aku yakin Nabi, Budha atau siapapun panutan tiap
agama, adalah orang yang lembut terhadap perempuan, dan menghormati hak-hak
perempuan bukannya memaksa syahwatnya dengan dalil-dalil agama”, tangan Anti
menarik tangan Thea untuk berdiri dan pergi meninggalkan pelataran kampus. Tangan mereka terus bergandengan sampai tiba
di parkiran.
Anti mengagumi
thea dengan segala opini dan logikanya, perkenalan pertama mereka dalam sebuah
seminar diskusi, Thea menyampaikan opini
dengan jelas tanpa ada ketakutan padalah banyak orang-orang yang cukup kontra
dengan pemikirannya, tapi dengan segala referensi yang dia sampaikan Thea mampu
menerima aplaus dari pengunjung lain atas segala opininya. Padahal usia mereka
sama, tapi entah apa yang di lahap Thea hingga kepalanya penuh dengan referensi
yang mampu mempertahankan segala opininya.
Setelah acara
selesai Anti menawari Thea untuk menulis
sebuah artikel tentang tema seminar yang baru saja mereka bahas, dari sana Anti
mulai menjalin komunikasi rutin dengan Thea. Anti mulai mengagumi thea, mulai
dari tulisan-tulisannya sampai pada diskusi-diskusi kecil yang mereka lakukan
di secretariat persma atau di kantor.
Anti betah
mendiskusikan apapun dengan Thea, mulai dari makanan, pakaian, politik bahkan
agama. Thea begitu terbuka tentang banyak hal, bahkan tentang hal-hal yang tabu
dibahas dalam ruang publik, Thea malah senang mengomentari hal-hal tersebuut
dengan jujur dan terbuka. walau penamilannya sangat biasa, hanya dengan kaos,
kemeja flannel yang terbuka juga celana denim plus sepatu converse biru yang
tak pernah lepas, juga model rambut sebahu asimetris. Thea juga suka berbicara
tentang fashion, tak jarang Anti
menanyakan tentang outfit yang
dipakainya. Walau tak banyak mengubah gaya busananya yang memang casual trendi, tapi diam-diam dia ingin
menarik perhatian Thea, walau Anti tahu Thea tak pernah mempermasalahkan apapun
yang dikenakannya.
………
“Kamu kan punya
agama, kenapa malah jadi agnostik coba?!”. tanya Anti pada suatu saat merasa
penasaran saat mereka makan di sebuah café yang tak terlalu jauh dari kantor
magang Thea.
“Aku dididik
dalam lingkungan yang sangat agamis, jika kamu tanya tentang hukum-hukum agama
tanya aja. Aku juga belajar di psantren selama masa menengah pertama. Bahkan
penampilanku juga kayak kamu dulu, dengan hijab yang engga pernah lepas tiap
keluar rumah” Thea diam sejenak, kemudian melanjutkan “Saat kelas dua menengah
atas, kedua orang tua aku meninggal, orang tua aku adalah tipe orang yang engga
cuma ngajarin anaknya agama karena perintah agama, tapi lebih dari itu mereka
mengajarkan cara berfikir yang buat anak-anaknya berfikir bahwa apa yang kamu
lakukan di dunia merupakan kebaikan dan warisan untuk dunia. Ayah dulu selalu
bilang kalau surga cuma bonus atas apa yang kita lakukan di dunia. Hal-hal yang kayak gitu yang aku engga pernah
dapat di pesantren, ataupun di sekolahan. Tapi kemudian ayah dan ibu meninggal,
dalam sebuah insiden oleh orang-orang yang membunuh atas nama Tuhan.
Sejak saat itu
aku mengalami pergolakan batin menanyakan segala hal tentang Tuhan, dan juga
menanyakan kembali tentang segala ajaran-Nya. Lalu aku berhenti begitu saja,
menamai Tuhan tanpa meninggalkan segala ajarannya, aku masih puasa, zakat,
karena aku tau manfaatnya, hanya aku tidak beribadah aja dengan cara-Nya. Dari
situ juga aku ngerasa bebas dari kefanatikan dan merasa lebih bisa menghargai
orang lain tanpa harus menghakimi.
“Maaf ya” sebuah
rasa bersalah keluar dari wajah Anti, ada rasa takut dalam hatinya bahwa
pertanyaannya akan membuka kembali luka-luka kehilangan Thea.
“Untuk? “.
“Udah ingatin
kamu tentang orang tua kamu” . aku beneran engga tau kalo orang tua kamu udah engga
ada”.
“Engga apa Ti,
aku percaya kini orang tua aku udah dapat bonus dari yang dia lakuin di dunia”.
Hujan mulai
turun membasahi bumi saat malam semakin larut, Anti dan Thea telah
menyelesaikan menu makan malam mereka, thea merasa sedikit tidak enak atas
topik yang menyangkut masa lalu Thea. Hatinya masih sedikit takut jika Thea
kemudian menjauhinya.
“Ea, kamu nginap
di kosan aku aja ya? hujan gini”. sebuah senyuman Thea menjawab pertanyaan
sederhana.
…..
Diantara rintik
hujan Thea menikmati secangkir teh di balkon atas kamar Anti, Anti menyusul
dari kamarnya dengan secangkir kopi dan duduk di samping Thea. Entah berapa
lama mereka saling diam, Thea hanya melihat kearah hujan dan jalanan, sedangkan
Anti, tanpa Thea sadari sedang memandangnya dengan penuh pertanyaan.
‘Cup’ sebuah kecup mendarat di pipi Thea,
mengagetkannya. Dilihatnya kearah pelaku yang telah menempelkan bibirnya ke
pipi Thea. Anti wajah Anti sangat dekat dengan pandangan penuh arti, sambil
menggigit bibir bawahnya, rambutnya yang terurai basah membuat suasana semakin
berbeda. Lalu Anti kembali mundur dan mengambil kembali cangkir kopinya.
“Kamu engga
marah?”. Tanya Anti
“Marah kenapa?”
“Karena aku suka
kamu”.
“Aku engga akan
marah hanya karena kamu suka sejenis, setiap orang bebas sih mau suka ke
siapa”. Thea kemudian mengubah posisi duduknya dan mulai merebahkan kepalanya
ke dada Anti yang masih dalam posisi duduk.
“Ti, kamu tau
tugas manusia di bumi sebenernya apa”
“Beribadah kepada
tuhan!?”
“Begitu sih
katanya, tapi bentuk beribadah itu dalam banyak hal, dalam banyak interaksi menjaga bumi itu sendiri,
juga semua isinya, temaksud menjaga hubbungan dengan manusia lainnya. Padalah
bumi tidak perlu manusia, tapi manusia perlu merawat bumi untuk mereka sendiri,
manusia tidak bisa merawat bumi sendiri, lalu manusia berkembang biak, kemudian
muncul aturan pernikahan, dimana hanya laki-laki dan perempuan yang boleh
menikah, agar manusia tetap mampu merawat bumi untuk mereka sendiri, maka
pernikahan sejenis itu dilarang”.
“Tapi manusia
terus berkembang dan menjadi serakah terhadap bumi, mereka ingin menguasai bumi
yang terbatas, tapi tak mampu merawat bumi, akibatnya sumberdaya bumi semakin
terbatas, dan hubungan antara manusia dengan manusia lain juga semakin buruk.
Lalu manusia berperang saling serang, menciptakan kiamat mereka sendiri”. Thea
diam sejenak.
“Lalu?”
“Di beberapa
daerah dimana homoseksualitas diterima tampak lebih tenang, dengan penerapan
hukum dan aturan ketat, manusia terlihat lebih damai. Manusia saling menghargai
satu sama lain tapi manusia di daerah tersebut mengalami masalah lain. Natalitas mereka semakin menurun dari
tahun ketahun. Keduanya mengalami kiamat masing-masing. Kiamat yang tak dapat
dihindari. Jika harus memilih aku akan memilih kiamat kedua. Semu, tapi
tenang.”
Anti kembali
menatap Thea yang bersandar didadanya, Thea menatapnya, ada suatu desir yang
menarik wajahnya mendekati wajah Thea, tapi kemudian dia berhenti. Bulir-bulir
keringat sedikit mengucur dari wajah Thea, ada raut cemas disana.
“Ea, kamu
sakit?” tanya Anti.
Thea kembali
menutup matanya daan tersenyum, “Engga apa-apa, aku sedang membiasakan diri
aja”
“kenapa?”
“Aku engga
pernah nyaman dengan interaksi sentuhan dan pandangan kayak tadi”
“kamu…..” senyum
tersungging di wajah Anti, dia mengerti dan hanya mengusap kepala Thea. Anti tak
meneruskan, hanya ingin Thea nyaman disisinya.

1 Comments
Keren cerpennya, lanjutkaann
BalasHapus