Beberapa saat lalu saat jalan-jalan ke tuk-tuk untuk sebuah kegiatan, di kegiatan ini Manusia abu-abu berkenalan dengan salah seorang perempuan keren yang
kesehariannya sekarang katanya Jualan Kopi, tapi diluar itu ternyata Teh Dewi Nova juga seorang consellor dan juga seniman. Dalam project tersebut selama
sehari saya belajar sebuah metode konseling diri melalui gerakan-gerakan dan
tari yang dinamakan Dance Movement Therapy (DMT).
Dari cerita Teh Nova,
bahwa DMT sendiri dikembangkan oleh kelompok Kalkota Sanved di India sejak tahun
2004. Dimana melalui gerakan-gerakan dan juga tarian metode ini diharap mampu
untuk mengenali kerentanan diri terhadap potensi gangguan kesehatan mental,
mengenali potensi diri untuk memulihkan kesehatan menntaldan kehidupan sosial,
dan merawat kesehatan mental secara kolektif bersama dengan kelompok atau
komunitas, khususnya bagi korban-korban kekerasan, persekusi dan kelompok
minoritas.
Tahap dalam DMT yang saat itu yang kami jalani :
·
dimulai dengan pemanasan dengan musik-musik yang
berirama slow yang dipandu oleh salah satu peserta saat itu yang berkisar 25
orang kemudian diikuti oleh peserta lainnya.
·
Ground
Movement, Ground movement adalah gerakan yang berfokus pada ujung kaki
hingga pinggang, pada tahap ini peserta mengambil tempat atau ruang senyaman
peserta tanpa harus bersinggungan dengan peserta lain kemudian mengikuti alunan
musik dan bergerak bebas, yang perlu ingat adalah folus gerakan pada pinggang
sampai ujung kaki. Tujuan dari gerakan ini adalah sebagai akar atau kekuatan
pijakan diri sendiri lalu ditutup dengan tarik nafas dan cek feeling. (tarik nafas dan cek feeling dilakukan hampir
di setiap tahap nantinya untuk menetralkan pernafasan, juga mengecek kondisi
tubuh agar selalu menyesuaikan gerakan dengan kondisi mental dan fisik tubuh).
·
Centre
Movement, centre movement adalah berakan yang berpusat pada bagian tengah,
mulai dari dada sampai pada pangkal paha dan bokong. Bagian ini merupakan pusat
dari segala organ manusia juga bagian penting dari seksualitas manusia. lalu
diakhiri dengan pernapasan dan juga cek feeling.
·
Queer/ Queen
/ King / three Movement, adalah gerakan yang berpusat pada bagian dada ke
atas. Gerakan ini merupakan gerakan untuk memimpin dan mengarahkan karena
gerakan ini berada di bagian atas dan merupakan bagian yang mengontrol semua
bagian tubuh. Setelah itu kembali melakukan pernafasan dan juga cek feeling.
·
Selanjutnya
melakukan pendinginan sejenak sebelum memasuki ke tahap berikutnya.
Pada tahap berikutnya peserta mencoba untuk mengenali kerentanan
diri, dan juga kekuatan serta harapan. Pada tahap ini peserta di minta untuk
menyusuri garis yang telah dibuat oleh kak dewi selaku konselor, didalam garis
ini terdapat beberapa kartu yang secara garis besar dibagi dua dimana menjadi
kerentanan dan yang lain merupakan kekuatan dan harapan. Saat melewati tiap
garis diharap tiap peserta merefleksikan juga mengekspresikan apa yang menjadi
kerentanan dan dari tiap peserta. Pada tahap ini memang menjadi suatu
kerentanan sendiri dalam tahap penyembuhan trauma karena peserta harus
mengingat kembali hal-hal buruk dan rentan pada dirinya. Uniknya beberapa
peserta yang mencoba mengalami kelelahan mental karena harus berhadapan dengan
kenangan sambil mengekpresikannya hal-hal tersebut . tahap ini juga mampu
memetakan apa yang menjadi masalah dan keinginan tiap peserta dalam hidupnya.
Latihan ini sangat personal karena tiap orang mengalami permasalahan dan trauma
yang berbeda. Dan pemetaan kartu dapat dilakukan dengan bervariasi sesuai
dengan kebutuhan masing-masing.
Setelah melewati tahap yang cukup berat dengan sesi jalur
penuh emosi. Lalu pendinginan dan cek feeling. Peserta kemudian berlatih untuk
melindungi diri sendiri dengan berlatih membuat border diri sendiri. karena
manusia sesungguhnya harus memiliki zona untuk dirinya sendiri, sehingga dia
mampu untuk melindungi dirinya sendiri, dan untuk dirinya tanpa diganggu
orang-orang lain bahkan orang terdekat. Latihan ini dilakukan berkelompok
dengan bergantian, dimana peserta yang bertahan membuat bordernya sendiri
sebatas mana orang lain boleh mendekatinya, dan peserta bertahan boleh
berekspesi sesuka hati saat batasnya di dekati orang lain, baik itu berteriak,
isyarat, atau menghindar.
Pentingnya membuat border sendiri, juga harus berkompromi
dengan situasi, adakalanya kira bergerak dalam kelompok untuk itu maka kemudian
peserta belajar untuk bekerja sama dan berdempetan dalam sebuah payung. Dari aktifitas
ini peserta kemudian belajar bagaimana pentingnya juga bertahan dalam kelompok.
Pada sesi berikutnya, Teh Dewi mengajak kami untuk mencintai
diri sendiri sambil berkhayal. Pada sesi ini, kami diajak berkhayal untuk
menjadi sesuatu yang kami khayalkan, bisa apa saja, binatang, benda, atau
bahkan karakter tertentu. Lalu kami diminta untuk berkhayal dan bergerak dan
berekspresi bagaimana jika kami marah sebagai bentuk khayalan kami, lalu
kemudian kami di minta untuk menjadi sesuatu yang damai dari bentuk khayalan
kami. Saya yang saat itu berkhayal menjadi landak berimajinasi sebagai landak
yang marah yang menatap marah siapa saja yang mendekat sambil mengancam dengan
duri-duri, kemudian saya menjadi landak yang damai yang berdiam diri dalam
sarangnya dengan damai.
Tahap berikutnya adalah belajar mencintai diri sendiri,
dengan menyentuh diri senyaman mungkin. Perlu di jelaskan bahwa pada tahap ini
tidak terlalu disarankan ubtuk orang-orang yang merasa tidak nyaman menyentuh
diri sendiri. di tahap ini kita diminta untuk mengambil posisi senyaman mungkin
kemudian memeluk diri sendiri, bercengkrama dengan diri sendiri sambil
berterima kasih kepada diri sendiri atas segala hal baik dan buruk yang telah
diterima, dan berterima kasih kepada diri sendiri karena selalu ada.
Tahap akhir dari sesi ini adalah peserta bersama sama
melarung, di tahap ini peserta bersama-sama ke sungai juga danau kemudian
menghanyutkan sesuatu (bisa daun, batu, atau apapun) sebagai representasi
segala emosi buruk dan kenangan buruk, sehingga peserta diharap mampu
menyembuhkan dan menerima segala trauma yang diterimanya dan menjadi bagian
baik dari dirinya.
![]() |
| Melarung- Momen melepas segala emosi dan perasaan negatif ke Danau Toba |
Event saya berkenalan
dengan Teh Dewi Nova ini merupakan sebuah acara Trauma Healing dari Cangkang
Queer terhadap kelompok-kelompok minoritas yang masih sulit diterima dan tidak
jarang menerima persekusi juga perlakuan buruk dari masyarakat. Dengan adanya
trauma healing ini di harap teman-teman peserta mambu menyembuhkan diri dari
trauma dan mampu membagi pengetahuannya dan pengalaman sebagai bagian dari
sendiri juga mencintai serta menerima diri sendiri dan juga kelompok.


0 Comments