Hampir setiap orang ingin menunjukkan siapa dirinya dan diterima dalam lingkungannya, tapi tidak semua orang dapat dengan mudah melakukan hal tersebut, kususnya teman-teman dengan permasalahan gender yang berbeda dan minoritas. Usaha untuk membuka diri ini diistilahkan dengan ‘Melela’. Kata /melela/ sempat digunakan penulis Pramoedya Ananta Toer di dalam novelnya berjudul Bukan Pasarmalam yang terbit pada 1951. Kata /melela/ bermakna ‘menunjukkan diri dengan cara yang elok.’ Merujuk pada makna tersebut, kata /melela/ dapat digunakan sebagai padanan kata Inggris “coming out”. (Melela.org)
Mengapa harus melela? Sebagian besar, orang hanya ingin jujur
tentang siapa mereka, terutama dengan orang yang mereka sayangi.
Menyembunyikan siapa Anda bisa menjadi perjuangan besar. Anda dapat menguras
energi dan menjadi tidak fokus dari hal-hal penting lainnya dalam hidup Anda
seperti pekerjaan atau pendidikan Anda.
Dikutip dari suarakita.org,
dengan melela, secara langsung maupun tidak, dapat membantu mengubah sikap di
masyarakat dan membangun dukungan untuk penerimaan sosial dan kesetaraan hukum
bagi LGBT. Proses melela bisa sangat berbeda untuk setiap orang dan mungkin
perlu beberapa saat untuk sampai ke titik di mana Anda merasa siap untuk
melela, yang mana itu bukan masalah. Hal utama yang perlu diingat adalah jangan
sampai memberi tekanan pada diri sendiri dan hanya melela saat Anda merasa
siap.
Proses melela sendiri, bisa jadi seperti pertaruhan karena tidak
semua orang bisa menerima dengan perbedaan dan diri kita sendiri. yang harus
disadari betul adalah dengan siapa kita melela. Di negara yang kurang toleran
dengan LGBTIQ+ , juga dimana homoseksualitas masih disadari sebagai penyakit,
melela akan sangat sulit. Resiko-resiko ditolak oleh keluarga, penyebaran oleh
media sosial, juga sampai praktek terapi konversi agama secara paksa. Sedangkan
penerimaan sendiri bisa berarti kelegaan, dan kenyamanan, bisa jadi merupakan
tempat aman untuk berbagi dengan orang-orang yang menerimanya.
Apa yang
Harus Diperhatikan Saat Melela?
Seperti yang sudah di jelaskan di atas, melela bukan merupakan hal
yang mudah, khususnya dengan orang-orang terdekat, apalagi di masyarakat dimana
LGBTIQ masih dianggap sebagai hal tabu dan cukup dibenci. Dalam melela pada
seseorang yang harus di perhatikan adalah seterbuka apa orang yang menjadi
sasaran melela memahami dan terbuka terhadap masalah tersebut. pernah saya
mendengar suatu cerita ddari teman, dia sempat melela ke adiknya, tapi justru
memuat hubungan dia dan adiknya memburuk. Padahal adiknya cukup terbuka dan
tidak mempermasalahkan teman-temannya
yang merupakan seorang gay.
Selain itu juga perlu kesiapan dan tidak adanya tekanan saat
melela, bagi teman yang misalnya ingin memancing seseorang agar melela pun,
bisa memberi ruang nyaman, sehingga meyakinkan temannya untuk melela. Mencoba
jujur dan terbuka terhadap masalah pribadi pada seseorang yang ingin melela pun
bisa menjadi salah satu jalan. Kenyamanan, dan keamanan adalah hal penting yang
saat seorang ingin melela. Menunjukkan sikap terbuka dan menerima terhadap segala
perbedaan adalah kunci agar dapat kenyamanan seseorang yang ingin melela tanpa
menghakimi.
![]() |
| sumber : tirto.id |
Bagaimana
Bila Ada Anggota Keluarga Melela?
Daritirto.id, Paparan heteronormativitas dalam masyarakat kita membuat sebagian
orang terus menganggap LGBTI+ sebagai suatu penyakit yang bisa disembuhkan,
kendati menurut ilmu psikologi—baik menurut pegangan pakar psikologi, DSM
(American Psychiatric Association) dan PPDGJ III (Depkes RI, 1993)—kelompok ini
sudah tidak dianggap mengalami gangguan atau menyimpang lagi. Tidak hanya masyarakat dari kalangan umum
saja yang punya variasi pendapat seputar kelompok LGBTI+, berbagai praktisi
psikolog pun punya macam-macam pandangan.
Menurut
Elizabeth Wahyu Margareth Indira, M.Pd., Psi, psikolog di Lembaga Psikologi
Terapan Talenta, Semarang, langkah pertama yang bisa dilakukan orangtua ialah
memeriksakan anak ke pakar psikologi. Ia juga menyampaikan, sebaiknya orangtua
mengarahkan kembali si anak agar senada antara perilaku atau ekspresi gender
dengan jenis kelaminnya.
“Yang tidak
kalah penting, mengetahui penyebab mengapa si anak bisa demikian. Kalau
ternyata dari faktor hormonal, memang perlu bantuan medis. Namun, kalau lebih
banyak faktor lingkungan, perlu pendampingan psikologis seperti terapi perilaku
atau konseling jika ternyata anak pernah mengalami peristiwa yang membuat ia
memiliki identitas gender tidak sesuai jenis kelaminnya,” .
Psikolog
klinis dewasa di Angsamerah Clinic, Jakarta, Inez Kristanti, M.Psi, berpendapat
lain. Menurutnya, tidak ada yang perlu diperbaiki dari orientasi seksual
seseorang yang nonhetero. Jikapun pihak keluarga ingin meminta bantuan ke
psikolog, yang Inez akan tawarkan adalah berbagai saran atau informasi terkait
pendampingan untuk anggota keluarga mereka tersebut.
“Orangtua
tidak perlu menentang keinginan anak berekspresi atau memilih orientasi
seksualnya. Yang bisa mereka lakukan adalah mendampingi dan memberi penjelasan.
Edukasi tentang gender sudah bisa disosialisasikan ke anak sejak usia dini
karena identitas gender mereka saat itu sudah mulai terbentuk setelah
berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya,”.
Menurut studi
yang dimuat di jurnal ilmiah psikologi MANASA (2016) pun disebutkan, proses
penerimaan ibu terhadap anak perempuan berorientasi homoseksual pun beragam.
Ada yang melewati tahap penyangkalan dulu, kemudian marah, mulai membuka posisi
tawar, tertekan, hingga akhirnya benar-benar menerima anak dan orientasi
seksualnya.
Lebih jauh
dalam studi tersebut dikatakan, sekalipun orangtua masih merasa homoseksual
adalah sesuatu yang salah dan karenanya belum bisa menerima orientasi seksual
si anak, kemungkinan orangtua untuk tetap mendukung si anak tanpa mengubah
nilai-nilai yang diyakininya tetap terbuka. Hal ini dapat dipengaruhi oleh niat
orangtua untuk tetap mengutamakan kedekatan relasi dengan anak mereka, walau
ada hal yang sulit mereka kompromikan.
Peran
orangtua yang langsung menekan atau mengerem anak terkait orientasi seksual
mereka hanya akan berdampak negatif. Anak bisa merasa bersalah, berdosa, jijik,
dan timbul perasaan tak berharga dalam dirinya, terlebih bila keluarga
berkontribusi mengolok-olok mereka. Karena itu, orangtua harus menciptakan rasa
nyaman dalam diri anak dengan memberi mereka kasih sayang dan menjadi sosok
teman bagi anak sejak kecil.
“Kalau peran
gender terlalu saklek diterapkan, anak akan sulit mengelola emosi negatif.
Efeknya, jika anak mengalami kegagalan, ia bingung mengelola emosi, lalu
berekor ke potensi perilaku-perilaku negatif,” kata Inez.
Ia juga
menekankan bahwa hal-hal negatif yang berhubungan dengan tekanan terhadap
perasaan seseorang berimbas sama bagi orang-orang dengan identitas gender dan orientasi
seksual apa pun. “Tidak ada gangguan psikis yang secara langsung terkait dengan
orientasi seksual. Sama dengan orang homoseksual, orang heteroseksual pun bisa
depresi kalau terus ditekan dan sulit mengekspresikan diri,”.


0 Comments