Pada akhir
januari ini akhirnya saya menyempatkan untuk menulis lagi setelah sekian lama
lalai dengan laman ini. bukan karena terlalu sibuk juga, tapi emang rasa malas
dan pikiran yang terlalu liar dan tak mampu menyingkronkan dengan tubuh.
Untuk pembuka
tahun ini saya ingin menceritakan pengalaman menonton sebuah film yang tidak
biasa. Bagaimana tidak, saya merupakan sedikit orang yang berkesempatan
menonton sebuah film dokumenter di layar lebar. Karena biasanya jenis film ini
hanya diputar pada layar-layar proyektor di acara-acara komunitas dan diskusi.
Tapi berkat kesempatan yang diberikan teman-teman akhirnya saya mendapatkan kesempatan
berharga ini. Film dokumenter yang saya saksikan tentu saja bukan film documenter
biasa, karena merupakan film pemenang piala Citra FFI 2021.
Penghargaan Film Invicible Hopes di FFI 2021
Invisible Hopes, begitu judul
yang mungkin bisa kalian cari jika penasaran dengan film ini. film ini
merupakan gambaran bagaimana anak-anak yang lahir dan di dalam rumah tahanan.
Film yang diproduseri dan
disutradarai wanita berdarah batak yaitu kak Lamtiar Simorangkir. Adegan-adegan
dalam film ini di ambil di Rumah tahanan Wanita Pondok Bambu Jakarta Timur.
Dimana adegan dibuka dengan wawancara dan pengalaman seorang narapidana wanita
yang membantu temannya sesama narapidana melahirkan di penjara.
Film ini dibagi menjadi dua
bagian, dan berdurasi 1 Jam 45 Menit. Pada bagian pertama kita di ajak pada kisah narapidana-narapidana waita
yang berada di blok A dimana dalam satu ruangan terdapat beberapa wanita yang
tinggal dalam 1 ruangan, dan di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa wanita
hamil, dan juga terdapat bayi yang merupaka anak yang lahir di dalam rutan atau
yang lahir selama ibu-nya menjalani masa tahanan.
Sepanjang adegan pada bagian
pertama ini kita bisa melihat bagaimana kondisi asli di dalam rutan tersebut,
dan juga bagaimana kehidupan para narapidana wanita di Rutan Pondok Bambu. Mulai dari kondisi dalam
ruangan, sampai fasilitas yang ada di dalam rutan. Kita akan melihat bagaimana
anak-anak yang baru lahir dari ibu yang masih menjalani masa hukuman tersebut
dirawat seadanya tidak hanya oleh ibu mereka tapi juga para penghuni lain dalam
blok tersebut.
Dalam film dokumenter tersebut terlihat
bagaimana wanita-wanita tersebut berjuang membesarkan buah hati mereka meski
tanpa suami yang mendampingi, dan harus menjalani hidup berhimpitan dalam satu
blok penjara. Dalam cerita diceritakan dalam satu blok tersebut terdapat 15
narapidana wanita dan tiga bayi. Meski
menceritakan keadaan yang sebenarnya dalam rutan, cerita berfokus pada beberapa
karakter yang kebetulan sedang hamil tua, dan juga baru saja melahirkan, juga
anak-anak yang baru saja dilahirkan di dalam penjara.
Banyak permasalahan yang
sebenernya ingin diangkat, khususnya tentang kesejahtraan wanita hamil dan anak
mereka. dari film tersebut kita mengetahui bahwa anak yang lahir dari Ibu-ibu
yang sedang menjalani masa hukuman ini tidak menerima bantuan atau dirawat oleh
negara. Meskipun narapidana didalam penjara mendapat makan dan penghidupan,
tetapi biaya perawatan dan persalinan juga anak-anak yang lahir dan dibesarkan
disini tidak ditanggung oleh negara. Dalam beberapa adegan kita akan melihat
bahwa napi-napi ini harus memabayar secara mandiri biaya persalinan, chek-up
dan pengobatan anak-anak mereka sendiri, walau ada staf-staf rutan yang
membantu membawa mereka keluar ke rumah sakit rujukan. Bahkan dalam satu kasus
yang ditunjukan dalam film tersebut seorang narapidana bebas dini untuk melahirkan
diluar penjara, karena ibu tersebut beresiko untuk melahirkan normal, dan juga
kekurangan biaya untuk operasi persalinan.
Pada bagian kedua film ini
menggambarkan anak-anak balita yang besar di dalam penjara, mereka tumbuh dengan
baik, walau seperti yag dijelaskan sebelumnya tidak ada bantuan langsung karena
mereka bukan tanggungan lembaga pemasyarakatan, tetapi ibu-ibu mereka mampu
membesarkan anak-anak mereka dengan bantuan yang datang atau dari donasi,
dibagian ini juga diceritakankeluh kesah dan ketakutan mereka mengapa mereka
tidak memberikan anak mereka ke kerabat mereka diluar penjara, dan juga harapan
para napi yang memiliki anak ini untuk mendapatkan fasilitas yang lebih baik
dan bantuan untuk anak-anak mereka.
Diakhir cerita, kita
diperlihatkan bagaimana akhirnya anak-anak yang masih balita ini akhirnya
dipisahkan dari ibu kandung mereka dengan dititip atau di jemput oleh kerabat
mereka yang berada diluar penjara.
Film Invisible Hopes sendiri,
dikatakan sebagai film pertama yang menggambarkan bagaimana kondisi anak yang
dibesarkan di dalam penjara, dan bagaimana kehidupan wanita yang membesarkan
anak di dalam penjara. Dalam pemutaran film tersebut anak-anak yang dijemput
oleh keluarganya pun menghadapi masalah lain setelah keluar dan dipisahkandari
ibu kandung mereka.
Film ini diharapkan agar nantinya terdapat kebijakan yang berpihak dan melindungi anak-anak yang terlahir di dalam penjara. Karena kasus anak yang lahir di dalam penjara hampir tenjadi di seluruh Indonesia. Mereka menghadapi banyak masalah mulai dari kesehatan, gizi, sampai mental, karena tak jarang menjadi pelampiasan dari orang tua mereka.
Kepada penonton film ini produser
dan sutradara film ini yaitu Lamtiar Simorangkir berpesan dan berharap untuk
mampu membantu anak-anak tersebut, minimal tidak memberi stigma buruk pada
mereka.

0 Comments